▶️ PSIKOSOMATIS (Mind-Body-Soul)

Setiap kejadian yang kita alami pada dasarnya bersifat netral. Pikiran kita yang kemudian berperan memberikan makna positif atau negatif dari setiap kejadian.
Makna positif akan memberikan emosi positif dan makna negatif akan memberikan emosi negatif.
Apa yang dirasakan tergantung makna yang diberikan terhadap masalah itu sendiri.
Sebelum mengalami stres dan depresi pasti ada emosi yang menyertai dan memantiknya menjadi lebih parah dan rumit.

Saat kita mengalami gangguan pikiran berupa kenangan masa lalu, kejadian memalukan, tersakiti, marah, iri, putus asa, merasa tak berdaya, cemas berlebihan, kesepian, stress, frustasi, depresi, ketidakpuasan dan jenis emosi lainnya yang mengganggu kenyamanan hidup ; jika situasi ini tidak tertangani akan menyebabkan gangguan fisik, pikiran dan jiwa yang pada akhirnya akan mengalami Psikosomatis yakni berupa sakit fisik yang disebabkan karena emosi negatif yang dibiarkan mengakar terlalu dalam dalam pikiran Anda.
Ini mudah terjadi bagi mereka yang memiliki kepribadian labil, hilangnya kemampuan diri dalam menilai masalah secara netral atau positif.
Dampak lebih jauh segala permasalahan dan beban tersebut akan terakumulasi tersimpan alam bawah sadar tanpa kita sadari (materi dampak alam pikiran bawah sadar sudah pernah dibahas sebelumnya).

Seorang psikolog melakukan berbagai cara pendekatan terhadap suatu masalah atau gejala, dengan memandang masalah atau gejala itu sebagai suatu kesatuan yang utuh, yang artinya seorang psikolog akan melakukan observasi secara menyeluruh terhadap perilaku, emosi, pikiran secara klinis untuk menentukan pendekatan yang tepat dan terbaik untuk client pada saat sesi konseling.
Hal ini sangat membantu client dalam memberikan jalan keluar atas permasalahannya dan melepaskan(release) pikiran alam bawah sadarnya yang membebaninya.

Dalam hal ini konsep antara pikiran(mind), tubuh(body) dan jiwa(soul) secara utuh tak terpisahkan karena jika pikiran Anda terganggu, maka tubuh dan jiwa akan mengalami ketidaknyamanan.
Sering terjadi suatu kasus dendam dan memaafkan, yang terjadi adalah secara fisik (verbal) telah memaafkan namun jiwanya masih menolak dan masih ingin mempertahankan dendam dalam diri maka secara langsung kita dapat melihat perubahannya namun perubahan itu tidak akan berlangsung lama dan akan kembali kepada titik semula karena antara pikiran-tubuh-jiwa tidak “sepakat” untuk menerima perubahan baru secara bersama-sama.

“Memaafkan bukan karena ia layak untuk dimaafkan, namun karena saya ingin merasakan kebahagiaan dengan memaafkan.”

Visit our Instagram @ertamentari.psikolog for more story and articles.