▢️ Setia Dalam Pernikahan tetapi Tanpa Cinta

Pernikahan adalah suatu perjanjian
Dalam ikrar pernikahan kita berjanji untuk mengasihi bukan untuk merasakan cinta selamanya, melainkan untuk mencintai. Itulah dasar komitmen dalam perjanjian pernikahan.
Pernikahan bukan suatu kontrak perjanjian untuk kebahagiaan.
Kita tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang akan abadi, bahkan kebahagiaan kita sendiri.

Ada sesuatu yang hilang dalam pernikahan masa kini, yaitu perjanjian sebagai fondasi pernikahan.
Setiap pernikahan, cepat atau lambat akan melewati kenyataan yang “keras” saat masalah&cobaan menghadang dan saat itulah apakah kita benar-benar menepati janji pernikahan kita.
Sungguh menyedihkan mempertahankan pernikahan tanpa cinta, namun mengakhiri sebuah pernikahan tanpa cinta dengan perceraian ibarat mengobati penyakit dengan membunuh pasien nya.

Tahukah Anda bahwa perceraian bukanlah suatu kejadian yang mendadak, melainkan sebuah proses.
Terjadi perpisahan hati dimulai jauh sebelum perpisahan secara fisik.
Ada apa saja dalam proses hingga terjadinya suatu perceraian :
πŸ“Œ Hilangnya rasa hormat terhadap pasangan.
πŸ“Œ Kekecewaan (membesarkan hal negatif dan memberikan pembenaran bagi pernikahan yang terkikis)
πŸ“Œ Ketegangan dalam hubungan (relasi) menjauhkan rasa keintiman
πŸ“Œ Rasa benci yang tak terungkapkan, kebosanan menyembunyikan amarah, ketidakpedulian dan akhirnya terjadi kematian emosional (kematian atas impian dan harapan terhadap pernikahan / pesimisme)
Yang di lihat hanya ada 1 pilihan yakni perpisahan adalah jalan keluarnya, jika masalah-masalah yang ada tak dapat terselesaikan dengan baik, maka terjadilah perceraian.

Penyelesaian atas segala bentuk dan macam konflik yang terjadi dalam sebuah pernikahan sesungguhnya BUKAN perceraian namun yang dibutuhkan adalah PEMBAHARUAN dan syarat pengampunan.

Perceraian sesungguhnya adalah karena kondisi tidak mampu mengampuni dan tidak mau melakukan pembaharuan, perceraian disebabkan oleh kekerasan hati.
“Aku minta maaf”(dengan sepenuh hati) adalah kata yang sulit diucapkan dan “Aku memaafkanmu”(dengan sepenuh hati.) adalah kata yang lebih sulit diucapkan.
Seringnya kita tidak mampu mengampuni sebelum dia bertobat, namun pengampunan tidak tergantung pertobatan.

Butuh dua orang untuk membuat perjanjian pernikahan namun hanya butuh satu orang untuk menjaga nya.
Sebuah proses perceraian lebih berhubungan dengan lembaga pernikahan bukan terhadap perjanjian pernikahan itu sendiri karena tidak dapat dibatalkan karena hubungan tersebut tidak dapat dihapus.

(Visit out Instagram @ertamentari.psikolog to more articles)