▶️ Sebuah RASA dalam Pernikahan

Banyak yang mengatakan setelah perkawinan terjadi, mereka seperti menghadapi sosok lain yang tidak pernah dikenal. Pasangan hidup mereka ternyata adalah orang yang sangat berlawanan dengan yang mereka ketahui.
Cinta yang dulu dirasakan manis saat mereka masih berpacaran tiba-tiba menghilang entah kemana, yang tertinggal rasa hambar, formal, teratur, dingin dan penuh kepura-puraan.
Akhirnya mereka harus mempelajari dari awal seperti apakah kepribadiaan pasangan hidupnya yang sesungguhnya, dan itu memerlukan energi yang luar biasa besar sampai pada akhirnya mereka merasa kelelahan yang tidak dapat dimengerti hingga pada titik tersebut, kualitas kehidupan mereka sudah sangat memburuk.
Manusia memang sulit diduga kedalaman hatinya.
Banyak kasus yang terjadi ketika seorang perempuan memutuskan untuk menikah. Mereka menjadi terlalu banyak berharap terhadap suaminya terutama yang berkaitan dengan konsep “bahagia”, seolah berupaya mencari pengganti nilai kebahagiaan yang tidak diperolehnya di masa lalu..

Tidak semua kasus perselingkuhan membuat perkawinan harus tumbang. Tidak semua persoalan materi membuat orang tidak tahan dan memilih bercerai.
Demikian pula dengan masalah karir dan gaya hidup, tidak selalu membuat perkawinan berantakan.
Bahkan persoalan agama dan keyakinan yang berbeda pun bukan faktor yang menjadi penentu perceraian.
Sesungguhnya alasan dan keputusan berpisah lebih bersifat individual dalam banyak kehidupan perkawinan.
Ketika Anda mampu memasuki ruang pribadi kehidupan yang mereka alami dan mereka rasakan, baru lah Anda mengerti.
Setidaknya mendalami pengalaman beberapa client saya dalam kasus marital conflict (konflik dalam pernikahan) dapat dipahami apa yang sesungguhnya dialami pasangan suami istri yang memutuskan akan bercerai.

Keputusan bercerai bukan tentang salah benar, namun lebih menitik beratkan pada kesiapan mental dan kesehatan mental ketika dengan terpaksa harus mengambil suatu keputusan besar yakni sehuah perceraian.
Mempersiapkan dampak dan konsekuensi yang menyertai adalah menjadi hal yang terutama, khususnya bagi kehadiran anak-anak mereka.
Tidak ada tehnik tertentu dalam ilmu komunikasi perkawinan, hanya diharuskan berbicara sesuai dengan kapasitas Anda berdua sesuai dengan siapa diri Anda. Bukan sesuatu yang terlalu sulit selama Anda berdua memiliki niat untuk berkomunikasi dengan baik dan jelas.
Membahas persoalan internal dalam kehidupan pribadi keluarga dengan tujuan yang baik harus dipahami sekalipun sedang dalam situasi yang emosional.

Pasangan suami istri yang sudah cukup lama menikah tetap memiliki gairah seperti waktu berpacaran.
Bagaimana mereka tetap sibuk menjaga daya tarik fisik, cemburu dan sangat mesra dalam berelasi.
Mereka benar-benar sudah menjadi satu dan seperti sifat manusia pada umumnya tidak ada orang yang tidak memuja dirinya sendiri. Karena penyatuan yang berhasil itu mereka tak ubahnya seperti selalu memerhatikan dirinya sendiri dan berlaku sama pada pasangan hidupnya.
Inilah cinta yang mahal dan langka, kekuatan cintanya mungkin rapuh tetapi tidak cukup mampu diporakporandakan oleh kejadian apapun.