Setiap orang tua dalam sebuah keluarga tentu memiliki impian dan harapan terbaik terhadap kehidupan anak-anaknya.
Namun apabila dalam proses tumbuh kembang anak menuju usia kedewasaanya ternyata dihadapkan pada kenyataan bahwa terjadi hal yang berlawanan dari harapan orang tuanya, apakah anak dalam hal ini yang dipersalahkan? Apakah yang terjadi? Anak menjadi “memberontak”, kenakalan di luar kewajaran dan melakukan hal negatif lainnya.

Dalam pengalaman saya sebagai konselor keluarga dan anak, banyak orang tua merasa bahwa hal ini adalah kesalahan anak dalam proses tumbuh kembangnya (menganggap faktor pengaruh lingkungan eksternal) dan mereka telah merasa memberikan yang terbaik bagi anak-anak nya.
Tanpa para orang tua sadari bahwa mereka sesungguhnya mempunyai andil dalam pembentukan karakter anak hingga menjadi saat ini, hanya saja mereka tak menyadari karena rutinitas aktivitas kesehariannya.
Kami meyakini bahwa apapun yang terjadi pada anak mempunyai pengaruh dan hubungan yang sangat kuat terhadap apa yang orangtua contohkan secara tidak langsung bahkan secara tak disadari.
Orang tua merasa bahwa permasalahan ini terletak pada anak, padahal awal permasalahan dan bahkan akar permasalahan selalu berawal pada kondisi dan komunikasi dalam keluarga sebagai satu kesatuan.

Ketidak harmonisan rumah tangga sangat berpengaruh besar terhadap kondisi kesehatan mental anak, berpengaruh negatif pada kondisi psikologis anak.
Ketidak harmonisan dalam rumah tangga ini dapat berujung pada perceraian, hal ini disebabkan banyak hal namun pada kesempatan ini saya tidak membahas penyebab perceraian dsb dan yang dapat dipastikan terjadi ketidakefektifan komunikasi dalam keluarga.
Pada kesempatan ini saya ingin berfokus tentang dampak kesehatan mental bagi anak-anak pasutri yang tidak memiliki hubungan harmonis dalam rumah tangga, bahkan bilamana sampai dengan perceraian disebabkan alasan apapun, karena dampak ini tak memandang alasannya namun lebih pada fakta ketidak harmonisan tersebut yang “dipertontonkan” oleh orang tuanya.

Pola komunikasi dalam keluarga memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan jiwa dan hubungan sosial anak dan berdampak pada kehidupan anak di masa depan

Apa dampak bagi psikologis anak :
✔ Masalah mental ketika anak beranjak dewasa, dan hal ini tanpa disadari akan “terbawa” pada kehidupan anak tersebut selanjutnya.
✔ Kehilangan rasa percaya diri, hilangnya motivasi bahkan dorongan semangatnya karena figur orang tua sebagai support sistem tidak ada karena kondisi tersebut.
✔ Kehilangan figur contoh (teladan) dalam hidupnya, yang harusnya dari orang tuanya.
✔ Emosi dan etika berkehidupan tidak tertata dengan baik secara kedewasaan mental
✔ Pemicu trauma dan depresi mental
✔ Kecenderungan penyimpangan perilaku LGBT

Bagaimana seharusnya yang terjadi dalam komunikasi keluarga  ?

➕ Di dalam komunikasi keluarga diperlukan nya kesetaraan agar masing-masing anggota keluarga mempunyai rasa saling membutuhkan sehingga menciptakan rasa saling melengkapi dan akan menjadikan keluarga utuh, rukun dan bahagia.
➕ Keterbukaan dalam komunikasi mutlak diperlukan dan interaksi antar anggota keluarga serta masing-masing menunjukan itikad kemauan menanggapi dengan jujur.
➕ Mampu berempati (menempatkan diri pada peran atau posisi orang lain) dalam anggota keluarga yang sedang menghadapi kesulitan, hal ini akan membuat komunikasi menjadi efektif, nyaman dan lebih kondusif.
Kepedulian menjadi kata kuncinya, namun kepeduliaan tidak selalu diartikan materi hal ini lebih pada perhatian & penerimaan.
➕ Dukungan orang tua terhadap hal penting apapun dalam kehidupan anak. Dukungan ini tidak hanya sebatas dukungan meteri namun lebih kepada dukungan moral.
➕ Mengembangkan pandangan positif terhadap orang lain dalam berbagai situasi komunikasi.

Mengubah kebiasaan dalam bersikap sangatlah sulit, padahal sekeras mungkin seseorang ingin merubah kebiasaannya.
Perlu dimengerti bahwa kebiasaan-kebiasaan atau perilaku yang ada dalam diri saat ini dapat dipengaruhi oleh anggota keluarga.

⚠️ “Setiap perilaku yang dilakukan oleh anak, baik itu perilaku baik ataupun perilaku buruk dipengaruhi oleh faktor-faktor kebiasaan yang dilakukan dalam keluarga.

Perilaku terbentuk dari kumpulan kebiasaan-kebiasaan yang terpola dalam jangka waktu cukup panjang, dan hal ini bukan suatu hal yang tiba-tiba terjadi seketika.
Permasalahan keluarga dan anak, mempunyai korelasi yang sangat dekat dan secara tidak langsung dengan permasalahan perkawinan (marital conflict).
Penyelesaian permasalahan keluarga dan anak harus melibatkan sistem pendukung dalam keluarga itu sendiri (orangtua-anak dan relasi pasutri), bukan menggunakan obat “sebagai penahan sementara”, karena pembentukan perilaku sesungguhnya adalah permasalahan kesehatan mental sosial dan kejiwaan seseorang yang sedang “terluka”.

Kami selalu meyakini bahwa menjaga dan me-manage kesehatan mental (perilaku) secara natural adalah yang terbaik.
Kesehatan mental merupakan fondasi bagi pribadi dan jati diri yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap masalah.
” Happiness is Blessing, and Mental Health is the way.” (Ertamentari Psikolog quote)