▶️ Kehidupan DELUSIONAL

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang percaya diri dan memiliki penghargaan diri yang tinggi?
Meningkatkan penghargaan diri, berpikiran dan berperasaan positif tentang diri sendiri.
Dia selalu berbicara mengenai betapa baik dan hebatnya dia sehingga lupa untuk benar-benar melakukan sesuatu.
Kepercayaan dirinya tak lebih hanya waham dalam otaknya, khayalannya seolah-olah nyata dan meyakini omong kosongnya sendiri.
Ukuran yang digunakan berdasar pada seberapa positif orang melihat diri mereka sendiri, mereka terpaku pada perasaan nyaman karena berhasil mengelabuhi diri mereka sendiri hingga yakin bahwa mereka sedang menyelesaikan hal-hal yang besar bahkan ketika mereka tidak melakukannya.
Orang-orang dengan kepercayaan diri ini merasa dirinya istimewa, seakan-akan layak mendapatkan hal-hal baik tanpa berusaha, dia percaya diri bisa menjadi kaya tanpa harus bekerja. Dia percaya dapat disukai dan menjalin hubungan yang baik tanpa pernah membantu seorang pun. Dia percaya diri berhak memiliki gaya hidup yang luar biasa tanpa pernah mengorbankan apapun.
Orang-orang ini menampilkan sebuah kepercayaan diri dan penghargaan diri yang tinggi di level DELUSIONAL.

Orang-orang delusi sering kali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan ; meyakini hal-hal yang tidak nyata dan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Delusi bisa muncul sebagai gejala dari gangguan mental psikosis pada tahap yang lebih serius.
Paradoks yang menyatakan bahwa setiap dari kita dapat menjadi pribadi yang luar biasa dan teramat sukses (tapi tanpa realistis usaha), dapat mendorong seseorang memiliki keyakinan yang mengarah pada delusional.
Orang-orang seperti ini harus selalu merasa bahagia atas dirinya sendiri, dan banyak menghabiskan waktu berpikir tentang diri mereka sendiri.
Sekedar merasa bahagia atas diri sendiri tidak berarti apa-apa, kecuali Anda memiliki alasan yang baik untuk merasa bahagia atas diri Anda sendiri.

Orang-orang dengan delusional ini menganggap saran dan masukan dari orang lain sebagai ancaman terhadap superioritas mereka, membelokan apa saja, dengan cara tertentu, demi semakin meneguhkan dirinya.
Bagi mereka hanya ada 2 hal yakni suatu peneguhan (pembenaran atas keyakinannya) atau ancaman terhadap eksistensi mereka. Mereka meyakini bahwa jika ada hal baik maka hal itu karena jasa mereka (peneguhan) dan sebaliknya jika ada hal buruk maka hal itu karena ada pihak lain yang salah dan berniat buruk terhadap mereka(ancaman).
Kebutuhan untuk mendapatkan peneguhan ini dengan cepat akan menjadi sebuah kebiasaan mental untuk melebih-lebihkan kepercayaan diri atau penghargaan diri sendiri yang tinggi

Orang-orang delusional ini secara tak sadar menyesatkan diri dengan masuk ke dalam apapun yang memuaskan rasa superioritas mereka.
Seseorang seperti ini bersembunyi dari permasalahannya dengan “menciptakan” delusi keberhasilan atau kesuksesannya disetiap kesempatan dan kemudian seolah-olah yakin merasakan kebahagiaan, merasakan pengalaman positifnya dan karena dia tidak bisa menghadapi masalahnya entah sebaik apa dia menilai dirinya sendiri, ia menjadi lemah. Sesungguhnya orang dengan delusional ini adalah pribadi yang lemah, rendah diri, merasa tidak berharga dan tidak memiliki keyakinan dan percaya diri yang rendah, namun mereka “menginginkan” kondisi sebaliknya (superior istimewa) sehingga seolah-olah mereka “menciptakan” kondisi sebaliknya dan “meyakini kebenaran semu” itu hingga keyakinan mereka menjadi sebuah delusi.
Mereka tidak sanggup melihat bagian negatif dari pribadinya secara terbuka untuk memperbaikinya dan malahan mengakumulasi tingkat penyangkalan.

“Jika semua orang adalah pribadi yang luar biasa, berarti tidak ada seorang pun yang luar biasa.”
Sebaliknya banyak orang tak memiliki kepercayaan diri yang tinggi kuatir menerima diri mereka yang biasa-biasa saja, karena mereka yakin jika menerimanya, mereka tidak akan berubah jadi lebih baik dan hidup mereka tidak akan berarti
.
Pada kenyataannya kita membutuhkan kegagalan untuk membangun pribadi seseorang yang dewasa, tangguh dan sukses, bukan hanya berdasarkan keyakinan delusional.

(Visit our Instagram @ertamentari.psikolog to more articles)