Bila ditanya seringnya setiap insan manusia selalu menginginkan sebuah Kebahagiaan, namun rasa bahagia itu serasa “mahal” dan sulit di rengkuh.
Terasa segala permasalahan dan kesulitan bagai lebih “besar” daripada kebahagiaan itu sendiri.
Memang setiap insan mempunyai rasa bahagia masing-masing namun sejati nya bahagia itu hanya berupa satu rasa yang sama.
Bahagia tidak sama dengan tiada derita dan masalah. Bahagia bukan ilusi indah tentang hidup yang serba mulus dan tanpa cela. Bahagia sesungguhnya adalah “manis dalam kepahitan”.
Bahagia yang demikian tentu sulit dijelaskan logika.
Ketika orang tua harus bersusah payah dan berjerih lelah, mengorbankan istirahat dan kesenangan untuk anak-anak mereka, bukankah mereka berbahagia?

Bisa merasakan bahagia itu juga merupakan mujizat yang kita terima.
Mujizat adalah melihat dunia dengan terang dimata kita.
Mujizat adalah mengetahui bahwa selalu ada harapan dan kemungkinan ketika sepertinya hal itu tidak ada. Banyak orang yang begitu tertutup pada mujizat sehingga ketika mujizat jelas2 berada di depannya, mereka menyebutnya sebagai sekedar kebetulan.
Mujizat adalah peneguhan bahwa sesuatu yang lebih besar dari kita sedang bekerja. Mujizat terjadi setiap hari jika kita terbuka untuk melihatnya.

Jadi apakah saat ini kita benar-benar sudah bisa memahami sebuah kebahagiaan untuk hidup kita? Bahagia itu diberikan cuma-cuma (gratis) dan tak bisa “dibeli” dengan materi duniawi berapa pun nilai nya.
Betapa indahnya bila mana rumah kita dapat menjadi sebuah “house of Happiness”.
Seperti filosofi kami Ertamentari hanya sesederhana itu sebagai house of happiness yang begitu berarti dan untuk berbagi kepada setiap client yang hadir, karena kami memahami bahwa hanya satu hal sama yang dicari yakni sebuah kebahagiaan apapun dari permasalahan yang harus dihadapi.

Visit our Instagram @ertamentari.psikolog for more story and articles.