▶️ Apa pentingnya Konseling Pernikahan ?

Setiap pernikahan adalah mempunyai nama nya “permasalahan tiada akhir”, namun tidak berarti pernikahan akan berakhir. Persoalan yang tak kunjung selesai bukan tidak mungkin makin membuat fondasi sebuah pernikahan semakin kokoh dan menjadikan pasangan tumbuh dan berkembang. Biasa nya permasalahan mendasar adalah ketidakpuasan tetapi tidak dapat mengkomunikasikan pikiran serta perasaan nya secara verbal.
Percayakan Anda bahwa dalam pernikahan memiliki 1001 macam permasalahan, yang dapat menerpa siapa pun dan kapan pun tanpa kita sadari waktu nya.
Apakah KONSELING Pernikahan dapat membantu menyelesaikan masalah ?

Konseling dapat mendorong motivasi bersama untuk mencari solusi atas permasalahan dengan perspektif baru.
Konseling mengajarkan agar dapat mengenali dan mengidentifikasi masalah guna menyelesaikan konflik.
Konseling menjadi “jembatan” komunikasi yang netral antara pasangan yang mana biasanya masing-masing sudah kehilangan rasa percaya.
Konseling membantu untuk membuat komitmen baru bagi pasangan yang sedang berkonflik.

Konseling ini bertujuan agar kedua pasangan bersedia mengambil tanggungjawab untuk bagian mereka dalam masalah, menerima kesalahan masing-masing dan memotivasi untuk memperbaiki hubungan.
Proses perubahan sangat diperlukan untuk memiliki harapan yang realistis.

Ada 4 pola interaksi konflik yang harus dihindari :
a. Eskalasi dalam bentuk interaksi yang negatif
b. Invalidasi yang dapat mengakibatkan self esteem/self respect
c. Menghindar dalam masalah yang mengakibatkan marital distress
d. Interpretasi negatif yang melebihi kenyataan nya.

Dalam suatu hubungan pernikahan salah satu unsur pokoknya adalah komunikasi dan komunikasi yang efektif bila didukung oleh kemampuan membaca pikiran dan perasaan pasangan. Bila salah satu pihak salah paham, maka pihak lainnya berkewajiban untuk menjelaskan secara baik demi keutuhan hubungan.
Setiap pasangan harus belajar memahami komunikasi non-verbal (bahasa tubuh) atau sesuatu yang tidak diucapkan oleh lawan bicara.
.
Dalam hal ini dituntut peran seorang Psikolog untuk bisa membaca pikiran yang bertujuan menjembatani dan mampu memberikan solusi yang bijak terhadap perbedaan yang terjadi dalam setiap konflik keluarga maupun dalam konflik perkawinan.
Hal ini seperti sebuah negosiasi antara kedua belah pihak, orang yang tidak bisa menguasai keadaan, kurang bisa mengendalikan diri dan kurang bisa membaca kemauan pihak lain tidak akan dapat bernegosiasi dengan baik.
Dalam menilai seseorang dibutuhkan proses, tidak bisa mengandalkan kemampuan membaca pikiran semata, namun harus didukung oleh fakta.
Selain itu, seseorang dituntut objektif dalam menilai agar mengerti seperti apa orang lain dan mengetahui apa yang diinginkan orang tersebut, sehingga memudahkan dalam membangun hubungan (relasi)