Apa yang bisa dilakukan seorang anak ketika mengetahui ayah dan bundanya memutuskan bercerai?

Bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi dampak percarian terhadap anak kita?

Bagaimana dampak bagi anak jika kita harus pindah rumah akibat perceraian?

Bagaimana ketika anak tidak lagi tinggal dengan salah satu orang tua?

Pertanyaan-pertanyan itu sering kali muncul dan membawa rasa perih tersendiri bagi anak, karena keputusan orang tua kerap kali tidak dapat dirubah dengan alasan apapun. Ketahuilah bahwa orang yang tidak bahagia dengan kehidupan mereka termasuk mereka yang perkawinannya sudah terasa hambar, mereka sering kali melapiaskan kekesalan mereka pada orang lain. Mereka akan menjadi sangat sensitif, dan merasa tidak bahagia, seringkali tingkat kemarahan mereka menjadi tidak proporsional lagi dengan peristiwa yang dihadapi. Anak sering kali menjadi salah satu korban utamanya.

Permasalahan ekonomi sering menjadi alasan utama bagi perselisihan pasangan, namun sebenarnya pasangan dengan perkawinan yang kuat membuat masalah ini sebagai tantangan untuk semakin solid diantara keduanya dan memacu keduanya berjuang bersama untuk hidup yang lebih bahagia demikian pula dalam hal pengasuhan anak.

Anak-anak perlu tahu bahwa saat orang tua menjadi mudah marah, terlihat tidak senang pada anak-anak, jarang berkomunikasi itu pertanda bahwa sebenarnya ada beberapa hal yang berjalan tidak baik dan mereka tidak ingin menceritakan pada kita, yakinkan anak bahwa semua ini terjadi bukan karena dirinya. Kegagalan dalam perkawinan terjadi karena masalah pribadi antar pasangan, dan karenanya itu tegaskan pada anak bahwa mereka tidak perlu menjadi malu, banyak keluarga yang juga berada dalam situasi ini, dan faktanya bahwa perceraian terjadi sama sekali bukan karena kesalahan anak dan untuk itu anak tidak perlu merasa bersalah karenanya.

Karenanya kita juga dapat meminta anak untuk tidak malu jika membutuhkan bantuan psikolog saat anak atau orang tua terus-menerus merasa tidak nyaman akibat perceraian.

Perceraian merupakan peristiwa yang sangat menekan. Selain membawa dampak buruk pada anak, perceraian berdampak besar pada kelangsungan hidup orang tua yang mengalaminya. Pasangan yang bercerai cukup banyak yang mengunjungi psikolog daripada pasangan dari keluarga utuh.
Pasangan bercerai lebih banyak yang mengalami kecemasan, depresi, perasaan marah, perasaan tidak kompeten, penolakan, dan kesepian (Gahler, 2006)

Ketahuilah bahwa perceraian akan merubah hidup (bukan hanya hidup pasangan tapi juga anak-anak), mulai dari tidak tinggal bersama sampai kemungkinan pindah rumah, harus tinggal dengan keeluarga baru, pindah sekolah.

Karenanya itu perceraian yang dialami orang tua seringkali membawa stress pada anak karena bukan hanya orang tua yang wajib menyesuaikan diri tapi anak juga dituntut secara fleksibel mampu menerima situasi baru tersebut. Kendati tidak lagi bisa berkumpul bersama sesering biasanya tapi pastikan bahwa media yang kita miliki untuk tetap berkomunikasi antar anggota keluarga dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Jangan libatkan anak menjadi perantara pesan antar orang tua jika perceraian telah terjadi, berusahalah untuk secara dewasa mampu memisahkan kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga sehingga anak tidak menjadi korban tambahan atas keegoisan kita sebagai orang tua. Jangan pula memata-matai mantan pasangan kita melalui anak, mereka berhak menikmati dan menciptakan hidupnya sendiri, jangan bebani mereka dengan hal-hal seperti ini (Cynthia MacGreor).

Pasca perceraian jika anda menginginkan pernikahan kembali maka jangan paksa anak-anak memanggil pasangan baru anda dengan sebutan ayah/ ibu/ papa/ mama seperti mereka memanggil orangtuanya, mereka berhak untuk menjadi nyaman dan memilih panggilan yang tepat untuk pasangan baru anda. Jangan pula beli perhatian anak-anak dengan macam-macam hadiah yang terpenting bagi mereka adalah perhatian anda untuk mereka.

Beradaptasi dengan situasi baru membutuhkan waktu dan kesiapan psikologis karenanya menjadi orang tua bijak dalam menghadapi perceraian akan membantu anak melewati masa sulitnya dengan jauh lebih baik.